LEBARAN TUPAT TRADISI KHAS SASAK



 Lebaran Ketupat adalah prosesi ‘pesta’ kedua setelah seminggu sebelumnya merayakan pesta pertama berupa hari raya Idul Fitri.Lebaran Ketupat, tradisi ini lahir dari kreasi dakwah para leluhur penyebar Islam di Nusantara. Lebaran Ketupat dilaksanakan tepat di hari kedelapan Syawal dan dilaksanakan usai melakukan ibadah puasa sunnah Syawal selama enam hari pada 2 – 7 Syawal. Dengan demikian, Lebaran Ketupat adalah ‘pesta kedua’ untuk merayakan keberhasilan melaksanakan sunnah Nabi.
Akulturasi nilai-nilai budaya dan agama dalam sejarah pengamalannya di Nusantara selalu berdampak positif. Dengan cara ini agama ditampilkan lewat wajah paling membumi dan merakyat. Ritual keagamaan dihadirkan dalam ruang yang sudah dikenal atau setidaknya diakrabi oleh masyarakat, dan bukan semata di lembar kertas kitab Fikih. Ajaran agama didorong masuk hingga menancap dalam nalar bawah sadar masyarakat.
Tradisi dan kebudayaan dalam ritual agama tidak lahir tanpa filosofi dan nilai. Pesan-pesan kebajikan selalu ada dan menyertai tradisi tersebut. Perihal makanan yang bernama Ketupat saja disebut mengandung sejumlah pesan dan nilai relijiusitas. Dipilihnya Janur sebagai cangkang Ketupat dikarenakan serupa dengan bahasa Arab Jaa’annuur yang artinya ‘telah datang cahaya kebenaran’. Anyamannya disebut sebagai simbol rangkaian kesalahan manusia, sedangkan isinya yang berwarna putih saat dibelah menjadi tanda kebersihan hati. Ketupat yang sudah siap beserta sejumlah lauk pauknya diantarkan ke sanak kerabat dekat dan jauh sekaligus bersilaturrahim dan menjalin kebersamaan dengan cara santap bersama.
Inilah contoh kecil nan sederhana bagaimana agama diamalkan dalam wajahnya yang sangat damai dan manusiawi. Para penyebar awal Nusantara, termasuk Walisongo, mengajarkan hal demikian sebagai warisan metodologis dakwah yang dapat digunakan dalam lintas zaman. Terbukti praktek pengamalan agama berbasis budaya mampu memuluskan agenda islamisasi Nusantara lima abad yang lalu. Ajaran agama yang dibentuk dalam nilai tradisi khas Nusantara itupun tak pernah menimbulkan konflik di tenngah-tengah masyarakat.

Komentar