Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018
LEBARAN TUPAT TRADISI KHAS SASAK  Lebaran Ketupat adalah prosesi ‘pesta’ kedua setelah seminggu sebelumnya merayakan pesta pertama berupa hari raya Idul Fitri.Lebaran Ketupat, tradisi ini lahir dari kreasi dakwah para leluhur penyebar Islam di Nusantara. Lebaran Ketupat dilaksanakan tepat di hari kedelapan Syawal dan dilaksanakan usai melakukan ibadah puasa sunnah Syawal selama enam hari pada 2 – 7 Syawal. Dengan demikian, Lebaran Ketupat adalah ‘pesta kedua’ untuk merayakan keberhasilan melaksanakan sunnah Nabi. Akulturasi nilai-nilai budaya dan agama dalam sejarah pengamalannya di Nusantara selalu berdampak positif. Dengan cara ini agama ditampilkan lewat wajah paling membumi dan merakyat. Ritual keagamaan dihadirkan dalam ruang yang sudah dikenal atau setidaknya diakrabi oleh masyarakat, dan bukan semata di lembar kertas kitab Fikih. Ajaran agama didorong masuk hingga menancap dalam nalar bawah sadar masyarakat. Tradisi dan kebudayaan dalam ritual agama tidak lahir tanpa f...
Gambar
PIAGAM GUMI SASAK Pada tanggal 26 Desember 2015,bertempat di Aula Museum Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah terjadi peristiwa yang sangat bersejarah bagi kebudayaan NTB. Di mana tokoh-tokoh kebudayaan Sasak, Samawa, dan Mbojo berkumpul untuk mencetuskan sebuah pernyataann sikap. Tepat pada hari itu,  masyarakat Sasak secara indipenden tanpa bantuan pemerintah sekalipun akhirnya mencetuskan permintaan sikapnya yang dikenal dengan sebutan “Piagam Gumi Sasak”. Didaulatlah seorang tokoh bernama Dr. Muhammad Fadjri, M.A dengan sikap tegak dan suara lantang membacakan isi Piagam Gumi Sasak. Ajaibnya  seisi ruangan pada saat itu berdiri orang-orang kemudian  menangis  terharu. Pada saat itu Pak Dr. Muhammad Fadjri didampingi oleh seorang tokoh sastrawan yang cukup terkenal yaitu Bapak Murahim M.pd, yang bertugas membawa piagam tersebut. Dengan membacakan isi Piagam Gumi Sasak, tokoh masyarakat Sasak menyatakan bahwa merdeka dengan kebuday...
Gambar
DIBALIK TRADISI “NYONGKOLAN” SUKU SASAK   Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi sendiri soal pernikahan, tak terkecuali di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Salah satu kebiasaan masyarakat Suku Sasak dalam acara prosesi pernikahan disebut  Nyongkolan . Tradisi nyongkolan bertujuan memperkenalkan pengantin baru kepada masyarakat luas.Pasangan yang akan menikah di iring dari rumah mempelai laki-laki ke rumah mempelai perempuan.Peserta nyongkolan adalah keluarga dan kerabat mempelai perempuan yang memakai baju ada serta diiringi rombongan musik tradisional seperti gamelan atau kelompok penabuh rebana.Calon mempelai laki – laki datang dengan secara terhormat.Bagi kalangan bangsawan, biasanya menggunakan iringan musik gendang beleq.Karena faktor jarak, iring - iringan ini tidak benar-benar dilakukan secara harfiah dari rumah mempelai laki-laki, namun dimulai dari jarak 0,5-1 km dari rumah perempuan.Selama proses ini,peserta nyongkolan dari rombongan laki-laki mem...